Postingan
5 Tanda Tubuh Sudah Berlebihan Mengonsumsi Garam
Benarkah Susu Unta Bisa Atasi HIV?
7 Tanda Usus Sudah Mulai Bermasalah, Salah Satunya Mudah Sakit!
Search This Blog
Comments
Ad Placement
Slide Show
Link Bawah
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor.
Selasa, 09 November 2021
Rhinitis: Jenis, Penyebab, Gejala, Obat, dan Lainnya
Rhinitis: Jenis, Penyebab, Gejala, Obat, dan Lainnya
Rhinitis: Jenis, Penyebab, Gejala, Obat, dan Lainnya Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.DokterSehat.Com – Hidung tersumbat, pilek, dan sering bersin-bersin? Awas, bisa jadi Anda mengalami Rhinitis! Penyakit Rhinitis bisa berkembang semakin parah bila tidak segera diobati. Oleh sebab itu, jangan meremehkan masalah hidung yang satu ini.
Sebaiknya, Anda mengetahui apa itu Rhinitis dan jenis-jenisnya. Ketahui penyebab, gejala, diagnosis, komplikasi, dan obat untuk masing-masing jenis Rhinitis! Informasi ini bisa membantu para penderita Rhinitis dalam memahami dan mengambil tindakan tepat.
Apa Itu Rhinitis?
Rhinitis adalah peradangan yang terjadi pada membran mukosa hidung. Penyakit Rhinitis yang dialami pasien belum tentu sama karena ada beberapa jenis Rhinitis. Penyebab dan diagnosis Rhinitis sering kali berbeda tergantung jenisnya. Namun, hampir semua jenis Rhinitis cenderung memiliki gejala, komplikasi dan pengobatan yang mirip.
Baca Juga: Rhinitis Hormonal Berisiko Dialami Wanita Saat Hamil, Haid, dan Pubertas
Jenis-Jenis Rhinitis
Berdasarkan sifatnya, Rhinitis diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu Rhinitis alergi dan Rhinitis non Alergi. Berikut penjelasannya:
1. Rhinitis Alergi
Rhinitis alergi atau bisa disebut juga alergi Rhinitis adalah jenis Rhinitis yang paling sering terjadi. Kejadian Rhinitis Alergi terkait dengan faktor alergi. Ada dua jenis alergi Rhinitis, yaitu alergi musiman (hanya terjadi pada musim tertentu) dan perennial (terjadi sepanjang tahun).
2. Rhinitis Non-Alergi
Rhinitis non-alergi adalah jenis Rhinitis yang tidak terkait faktor alergi. Ada banyak jenis Rhinitis non-alergi, tetapi yang sering terjadi adalah Rhinitis infeksi, Rhinitis vasomotor, Rhinitis atrophic, dan Rhinitis medicamentosa.
Jenis Rhinitis akut dan kronis termasuk di dalam Rhinitis infeksi. Namun, Rhinitis jenis lainnya juga bisa terjadi secara akut atau kronis.
Penyebab Penyakit Rhinitis
Penyebab penyakit Rhinitis biasanya bervariasi tergantung pada jenisnya. Alergi Rhinitis terjadi disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat yang dianggap berbahaya (allergen), sedangkan penyebab Rhinitis non-alergi cukup variatif.
Berikut ini adalah penyebab penyakit Rhinitis secara detail untuk setiap jenisnya:
| Jenis Rhinitis | Penyebab Rhinitis | |
| Rhinitis Alergi | Alergi musiman | Serbuk sari, spora jamur, rumput, gulma, tanaman musiman |
| Alergi perennial | Tungau, debu, kulit atau bulu hewan, urin hewan, air liur hewan, jamur, kecoak, parfum, produk skincare, produk pembersih, makanan | |
| Rhinitis Non Alergi | Rhinitis infeksi | Infeksi virus |
| Rhinitis akut | ||
| Rhinitis kronis | ||
| Rhinitis vasomotor | Idiopatik tetapi terkait dengan iritan, perubahan cuacas, infeksi virus dan penggunaan obat tertentu | |
| Rhinitis atrophic | Komplikasi operasi hidung atau infeksi | |
| Rhinitis medicamentosa | Penggunaan semprotan dan tetes hidung dekongestan secara berlebihan | |
Gejala Rhinitis
Gejala Rhinitis untuk beberapa jenis hampir mirip. Namun, ada juga penyakit Rhinitis jenis tertentu dengan gejala yang berbeda.
Inilah beberapa gejala Rhinitis untuk setiap jenisnya:
| Jenis Rhinitis | Gejala Rhinitis | |
| Rhinitis Alergi | Alergi musiman | bersin, pilek, hidung tersumbat, hidung gatal, batuk, tenggorokan sakit atau gatal, mata gatal, mata berair, sering sakit kepala, kelelahan berlebih, gejala eksim, ada lingkaran hitam di bawah mata |
| Alergi perennial | ||
| Rhinitis Non Alergi | Rhinitis infeksi | |
| Rhinitis akut | pilek, bersin, hidung tersumbat, batuk, dan demam ringan | |
| Rhinitis kronis | sumbatan hidung, pengerasan lapisan, sering berdarah, dan keluarnya cairan nanah yang bau | |
| Rhinitis vasomotor | hidung tersumbat, bersin, pilek, selaput lendir membengkak | |
| Rhinitis atrophic | selaput lendir menipis, saluran hidung melebar dan menjadi lebih kering, terbentuk kerak yang bau | |
| Rhinitis medicamentosa | hidung tersumbat parah | |
Kapan sebaiknya saya menemui dokter?
Segeralah memeriksakan diri Anda ke dokter jika mengalami beberapa gejala yang telah disebutkan. Hal ini bertujuan agar dokter bisa segera mendeteksi penyakit Rhinitis dan memberikan pengobatannya.
Diagnosis Rhinitis
Diagnosis Rhinitis yang dilakukan pada tahap pertama adalah tes alergi. Tes alergi ini bertujuan untuk menemukan penyebabnya, sehingga bisa mengetahui jenisnya.
Ada dua jenis tindakan diagnosis untuk mengetahui penyebab Rhinitis, yaitu:
- Tes kulit – Tes alergi ini dilakukan dengan meletakkan beberapa zat di atas kulit Anda dan mengamati reaksinya. Tanda-tanda alergi yang muncul menandakan Anda alergi pada zat tersebut
- Tes darah – Tes alergi ini dilakukan dengan mengukur jumlah antibodi imunoglobulin E terhadap alergen tertentu di dalam darah Anda.
Namun, terkadang hasil diagnosis melalui kedua tes tersebut masih belum pasti. Apabila hal tersebut terjadi, maka dokter akan melakukan tindakan diagnosis lanjutan guna mengamati komplikasi yang terjadi pada area sinus.
Dokter akan merekomendasikan beberapa tindakan untuk melihat kondisi sinus Anda, yakni dengan cara-cara di bawah:
- Nasal endoskopi – Dokter akan memasukkan tabung tipis, fleksibel, dan bercahaya ke dalam hidung untuk melihat kondisi hidung dalam.
- CT scan – Pencitraan dengan menggunakan sinar-X dan komputer. Dokter dapat melihat gambaran detail bagian dalam hidung.
Komplikasi Rhinitis
Baik alergi rhinitis maupun rhinitis non-alergi bisa menimbulkan beberapa komplikasi jika tidak segera ditangani dan dibiarkan terjadi terus menerus.
Berikut ini adalah beberapa komplikasi Rhinitis yang mungkin terjadi:
| Jenis Rhinitis | Komplikasi Rhinitis |
| Rhinitis Alergi |
|
| Rhinitis Non Alergi |
|
Pengobatan Rhinitis
Pada umumnya, pengobatan Rhinitis dilakukan dengan memberikan obat Rhinitis yang bersifat simptomati, yaitu meredakan gejala Rhinitis yang muncul. Meskipun, ada juga pengobatan Rhinitis yang bertujuan untuk mengatasi komplikasi.
Berikut ini adalah beberapa pengobatan Rhinitis yang umum dilakukan:
| Jenis Rhinitis | Pengobatan Rhinitis | |
| Rhinitis Alergi | Alergi musiman | Obat antihistamin, dekongestan, terapi imunitas |
| Alergi perennial | ||
| Rhinitis Non Alergi | Rhinitis infeksi | |
| Rhinitis akut | Obat dekongestan, antihistamin | |
| Rhinitis kronis | Obat dekongestan, biopsi | |
| Rhinitis vasomotor | Menghindari asap dan iritasi, menggunakan sistem pemanas sentral, semprotan kortikosteroid hidung, antihistamin, dekongestan oral (bila gejala semakin memburuk) | |
| Rhinitis atrophic | Antibiotik, Estrogen semprot, vitamin A, dan vitamin dan D | |
| Rhinitis medicamentosa | menghentikan obat yang menjadi penyebab, menggunakan semprotan hidung saline dan semprotan kortikosteroid | |
Sumber:
- AAFP: Diagnosing Rhinitis: Allergic vs. Nonallergic. David M Quillen and David B Feller. 2006. https://www.aafp.org/afp/2006/0501/p1583.html [diakses pada 10 Juli 2019]
- MSDManuals: Rhinitis. https://www.msdmanuals.com/home/ear,-nose,-and-throat-disorders/nose-and-sinus-disorders/rhinitis [diakses pada 10 Juli 2019]
- NHS: Allergic Rhinitis. https://www.nhs.uk/conditions/allergic-rhinitis/ [diakses pada 10 Juli 2019]
- Healthline: Allergic Rhinitis. https://www.healthline.com/health/allergic-rhinitis#home-remedies [diakses pada 10 Juli 2019]
- ACAAI: Allergic Rhinitis. https://acaai.org/allergies/types/hay-fever-rhinitis [diakses pada 10 Juli 2019]
- NHS: Non-allergic rhinitis. https://www.nhs.uk/conditions/non-allergic-rhinitis/ [diakses pada 10 Juli 2019]
- MayoClinic: Nonallergic rhinitis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/nonallergic-rhinitis/symptoms-causes/syc-20351229 [diakses pada 10 Juli 2019]
- MedicalNewsToday: What is nonallergic rhinitis? Christian Nordqvist. 2018. https://www.medicalnewstoday.com/articles/177085.php [diakses pada 10 Juli 2019]
- WebMD: Nonallergic Rhinitis. https://www.webmd.com/allergies/nonallergic-rhinitis#1 [diakses pada 10 Juli 2019]
- Healthline: Vasomotor Rhinitis. https://www.healthline.com/health/vasomotor-rhinitis [diakses pada 10 Juli 2019]
Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
5 Tanda Tubuh Sudah Berlebihan Mengonsumsi Garam
5 Tanda Tubuh Sudah Berlebihan Mengonsumsi Garam
5 Tanda Tubuh Sudah Berlebihan Mengonsumsi Garam Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.DokterSehat.Com– Garam adalah salah satu bumbu makanan yang hampir selalu kita gunakan saat memasak. Keberadaan garam juga bisa ditemukan di dalam makanan-makanan lainnya, termasuk di dalam makanan kemasan yang bisa kita temukan di toko atau swalayan. Masalahnya adalah pakar kesehatan menyebut konsumsi garam yang berlebihan bisa menyebabkan dampak kesehatan yang kurang baik.
Beberapa tanda tubuh sudah kelebihan asupan garam
Banyak penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi garam yang berlebihan bisa menyebabkan datangnya masalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Mengingat masalah kesehatan ini bisa berujung pada berbagai macam masalah kesehatan yang lebih serius seperti penyakit jantung atau stroke, sebaiknya kita mulai mewaspadai tanda bahwa tubuh sudah kelebihan asupan garam.
Berikut adalah tanda-tanda tersebut.
Makanan akan terasa jauh lebih hambar
Makanan yang memiliki kandungan garam tinggi memang cenderung lebih gurih dan asin. Sayangnya hal ini akan berimbas pada perubahan pada indera pengecap kita. Karena terbiasa mengonsumsi makanan yang gurih dan asin, makanan dengan kandungan garam lebih rendah akan terasa jauh lebih hambar dan tidak enak.
Pakar kesehatan Moloo Gazzaniga dari American Dietetic Association menyebut menambahkan garam pada berbagai makanan sehat yang rasanya kurang kuat seperti sayuran memang bisa membuatnya lebih enak, namun hal ini justru membuat lidah kita tak lagi mampu menerima rasa masakan yang lebih hambar.
Sering merasakan sensasi kembung
Konsumsi garam yang berlebihan bisa membuat kadar natrium di dalam tubuh meningkat. Sayangnya, hal ini akan berimbas pada retensi cairan yang muncul pada berbagai bagian tubuh. Kondisi ini bisa menyebabkan berat badan seperti bertambah.
“Garam di dalam tubuh mampu menahan atau mengikat cairan. Jika hal ini terjadi pada bagian pencernaan, akan menyebabkan sensasi kembung yang tidak nyaman dan berlangsung cukup lama,” ucap Bonne Taub-Dix yan berasal dari Better Than Dieting.
Hanya saja, kondisi ini cenderung lebih sering terjadi pada mereka yang sudah dewasa atau berusia lanjut.
Sering mengalami sakit kepala
Jika kita sering mengalami sakit kepala tanpa tahu apa penyebabnya, sebaiknya kita mulai mempertahankan kebiasaan mengonsumsi garam sehari-hari. Jika konsumsi garam relatif tinggi, bisa jadi memang garam penyebabnya.
Hal ini disebabkan oleh kemampuan kandungan di dalam garam, tepatnya natrium yang bisa memicu perubahan ukuran pada pembuluh darah, khususnya yang ada di kepala dan menuju otak. Jika sampai pembuluh darah menyempit, maka aliran darah juga akan terganggu sehingga akhirnya memicu sakit kepala.
Lebih sering buang air kecil
Ternyata, kebiasaan mengonsumsi garam dengan berlebihan juga bisa membuat frekuensi buang air kecil meningkat. Fakta ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan dr. Matsuo Tomohiro yang berasal dari Nagasaki University, Jepang, pada tahun 2017.
Dalam penelitian ini, asupan garam dalam jumlah yang tinggi bisa membuat frekuensi buang air kecil naik dengan drastis. Bagi orang yang sudah berusia lanjut, kondisi ini bahkan bisa membuat mereka bolak-balik ke toilet di tengah malam, saat mereka sebenarnya sedang tidur malam.
“Mengurangi konsumsi garam hingga 25 persen sudah cukup untuk menurunkan frekuensi buang air kecil di malam hari,” saran dr. Tomohiro.
Pembengkakan pada beberapa bagian tubuh
Konsumsi garam berlebihan akan menyebabkan retensi cairan yang berujung pada pembengkakan pada beberapa bagian tubuh seperti jari-jari, mata, atau bahkan kaki.
Demi mencegah datangnya hipertensi atau berbagai kondisi kesehatan lainnya, sebaiknya memang kita menurunkan asupan garam setiap hari.
Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
Benarkah Susu Unta Bisa Atasi HIV?
Benarkah Susu Unta Bisa Atasi HIV?
Benarkah Susu Unta Bisa Atasi HIV? Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.DokterSehat.Com– Kita tentu pernah mendengar banyak sekali informasi kesehatan yang cukup menghebohkan di berbagai media sosial. Sebagai contoh, belakangan ini disebutkan bahwa minum susu unta bisa melawan virus HIV, penyebab penyakit AIDS yang mematikan. Apakah berita ini memang benar?
Kemampuan susu unta dalam melawan HIV
Pakar kesehatan dr. Sidgi Syed Anwar Abdo Hasson dan Prof. Ali Abdullah Hasan Al Jabri yang berasal dari Sultan Qaboos University, Muscat, Oman menemukan formula khusus yang diklaim bisa melawan virus HIV. Salah satu kandungan dari formula ini adalah susu unta. Penemuan mereka bahkan sudah diajukan ke merek dagang dari Amerika Serikat (USPTO) dan disetujui pada 8 April 2019 silam.
Kedua ahli ini menyebut penemuan ini sebagai terobosan yang baik bagi perkembangan dunia kesehatan. Sebagai informasi, mereka melakukan penelitian selama 16 tahun sebelum menemukan formula yang kemudian disebut sebagai antibody anti-HIV ini.
Penelitian ini melibatkan beberapa orang yang sudah terinfeksi HIV. Setelahnya, dilakukan pula percobaan klinis pada mereka yang belum mengidap HIV untuk mengetahui apakah formula ini memang cukup ampuh untuk mencegah datangnya infeksi.
Hasilnya adalah, para partisipan mampu mendapatkan manfaat positif dari formula ini dan tidak mengalami efek samping, apapun jenis kelaminnya, gaya hidup, usia, dan dari mana ras mereka berasal. Bagi pasien HIV, formula ini bahkan bisa membuat kondisi kesehatannya semakin membaik seperti mengalami kenaikan berat badan dan sistem kekebalan tubuh.
Kedua peneliti menyebut penggunaan susu unta berasal dari fakta bahwa sistem kekebalan unta cenderung lebih kuat dari sistem kekebalan manusia.
“Kami berharap penemuan ini bisa menjadi pembuka bagi penelitian lain untuk mencegah dan mengobati HIV atau penyakit lain dengan konsep yang sama,” ungkap Sidgi.
Melihat fakta ini, susu unta harus diformulasikan dengan berbagai bahan-bahan lainnya terlebih dahulu demi membuatnya mampu melawan HIV. Hal ini berarti, minum susu unta tidak serta merta membuat kita mencegah atau melawan infeksi HIV.
Berbagai manfaat susu unta bagi kesehatan
Pakar kesehatan menyebut ada banyak sekali manfaat kesehatan yang bisa didapatkan jika kita rutin minum susu unta. Bahkan, ada yang menyebut susu ini bisa memberikan dampak yang lebih besar bagi kekuatan sistem kekebalan tubuh.
Berikut adalah berbagai manfaat susu unta bagi kesehatan.
Bisa mengatasi anemia
Susu unta memiliki kandungan zat besi yang tinggi. Keberadaan zat besi ini akan mendukung proses produksi sel darah merah yang menyalurkan oksigen dan nutrisi ke berbagai organ dan jaringan tubuh. Hal ini juga akan membantu mencegah datangnya anemia, masalah kesehatan yang membuat badan terasa lesu dan lemah seharian.
Bisa membantu mencegah datangnya diabetes
Kandungan di dalam susu unta ternyata bisa membantu meningkatkan sensivitas insulin di dalam tubuh. Padahal, insulin memiliki peran besar dalam menjaga kadar gula darah tetap normal. Hal ini tentu akan membantu mencegah diabetes.
Bisa memperkuat sistem imun tubuh
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, kandungan di dalam susu unta, tepatnya berupa protein dan sifat antimikrobanya yang tinggi bisa membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Rutin mengonsumsinya tentu akan membantu mencegah datangnya infeksi atau penyebab penyakit lainnya.
Bisa mencegah penuaan dini
Kandungan asam alpha-hydroxyl di dalam susu unta bisa membantu mencegah munculnya keriput dan garis-garis halus pada kulit. Hal ini tentu akan mencegah datangnya penuaan dini.
Baik dikonsumsi oleh anak-anak
Kandungan proteinnya yang tinggi bisa membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dengan maksimal. Bahkan, susu unta juga bisa membantu perkembangan tulang dan berbagai organ tubuh dengan baik.
Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
7 Tanda Usus Sudah Mulai Bermasalah, Salah Satunya Mudah Sakit!
7 Tanda Usus Sudah Mulai Bermasalah, Salah Satunya Mudah Sakit!
7 Tanda Usus Sudah Mulai Bermasalah, Salah Satunya Mudah Sakit! Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.DokterSehat.Com– Usus adalah salah satu organ paling penting bagi tubuh kita. Tanpa adanya usus di saluran pencernaan, kita akan kesulitan untuk menyerap nutrisi makanan. Masalahnya adalah karena gaya hidup yang tidak sehat, kondisi kesehatan usus bisa semakin menurun. Hal ini tentu akan memberikan dampak pada kondisi tubuh kita secara keseluruhan
Berbagai tanda yang menunjukkan usus sudah mulai bermasalah
Pakar kesehatan menyebut usus sebagai organ yang bisa memberikan pengaruh besar bagi sekresi beberapa jenis hormon dan sistem kekebalan tubuh.
Berikut adalah beberapa gejala kesehatan yang akan muncul jika organ ini mengalami masalah.
Mudah sakit
Di dalam usus terdapat bakteri yang memiliki peran dalam menyerap makanan sekaligus menjaga kekuatan sistem kekebalan tubuh. Jika sampai usus mulai mengalami masalah, maka keseimbangan bakteri atau mikrobioma ini juga akan terganggu. Dampaknya adalah sistem kekebalan tubuh akan menurun dan akhirnya membuat kita rentan terkena infeksi atau jatuh sakit.
Jika kita cenderung rentan terkena masalah kesehatan seperti flu, pilek, batuk, atau meriang tanpa alasan yang jelas, jangan ragu untuk memeriksakan kondisi usus demi memastikan penyebab pastinya.
Mengalami gangguan suasana hati
Tak hanya sistem kekebalan tubuh, kesehatan mental juga akan semakin menurun jika usus kita mulai bermasalah. Hal ini disebabkan oleh 70 persen produksi hormon serotonin berasal dari usus. Sebagai informasi, hormon ini dikenal sebagai hormon bahagia yang bisa mempengaruhi kesehatan mental atau suasana hati kita. Jika sampai produksi hormon ini terganggu, maka kita pun akan lebih mudah mengalami stres, depresi, hingga kecemasan.
Mengalami peningkatan kadar gula darah
Memang, peningkatan kadar gula darah seringkali terkait dengan masalah resistensi insulin yang terkait dengan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kandungan kalori atau gula dan gangguan pada pankreas, namun pakar kesehatan menyebut tingginya kadar gula darah bisa jadi juga terkait dengan gangguan pada usus.
Kondisi ini akan membuat keseimbangan bakteri terganggu dan akhirnya mempengaruhi proses metabolisme gula menjadi energi. Hal ini tentu akan membuat gula tidak terpakai dan jumlahnya akan terus meningkat di dalam tubuh.
Masalah kesehatan kulit
Selain karena faktor malas menjaga kebersihan kulit, munculnya masalah seperti gatal-gatal, jerawat, eksim, dan lain-lain bisa jadi juga terkait dengan masalah pada usus. Hal ini disebabkan oleh terjadinya peradangan pada tubuh akibat tidak sempurnanya proses penyerapan nutrisi makanan.
Gangguan pencernaan
Masalah pencernaan seperti perut kembung berkepanjangan, nyeri perut yang sering muncul, hingga diare terkait dengan adanya perubahan pada keseimbangan bakteri pada usus. Jika kita sering mengalami gangguan pencernaan meskipun sudah menerapkan pola makan yang sehat, bisa jadi penyebabnya adalah masalah pada usus sehingga sebaiknya segera memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter.
Bau mulut
Jangan salah, bau mulut tidak selalu disebabkan oleh kebiasaan malas membersihkan gigi. Bisa jadi hal ini terkait dengan kondisi kesehatan yang lebih serius seperti masalah pada usus. Jika sampai di dalam perut terjadi gangguan pencernaan, maka akan memproduksi aroma yang kurang sedap yang bisa saja keluar melalui mulut.
Meski kita sudah berusaha untuk membersihkan mulut dengan lebih baik, biasanya masalah bau mulut ini akan terus muncul sehingga membuat sensasi tidak nyaman.
Terus ingin mengonsumsi makanan manis
Ketidakseimbangan bakteri usus akan membuat kita cenderung ingin mengonsumsi makanan manis atau tinggi gula. Masalahnya adalah hal ini bisa memicu peningkatan berat badan atau bahkan risiko diabetes.
Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
